Ijinkan Aku Memanggilmu Kakak
Aku masih inget saat pertama kali kenal dia di tahun 2001, di semester pertamaku di BL. Saat itu dia menggantikan dosen Bahasa C-ku yang berhalangan hadir. Penampilannya saat itu cukup anggun, rambut panjang, orang kecil mungil, ya…gak jauh beda seperti penampilan sekarang ini.
Setelah pertemuan pertamaku dengannya saat itu, sesekali aku berkesempatan mengobrol dengannya. Orangnya asyik dan care sama aku. Mungkin karena kita sama-sama Ikadin di kampus ini. Namun kita belum begitu akrab. Ya…aku sadar bahwa dia adalah dosen dan aku hanya mahasiswa, jadi ya harus jaga sikap dan jaga diri.
Di semester ke-3 kuliahku, aku mengambil dia untuk matakuliah PAB. Saat itu aku sengaja mengambil matakuliah pilihan ini buat tambah-tambah IPK. Lumayan 4 SKS. Dan sengaja juga aku mengambil dia, karena aku dan dia sudah saling kenal. Kan kalo dah kenal, dapet nilai A-nya kan enak, hehe2x. Kalo aku sih kuliah sama dia nyantai abiss, dateng agak telat, duduk di pojok depan sebelah kanan, terus langsung pasang muka serius pura-pura memperhatikan, walau sebenernya menahan kantuk. Dan terkadang gak sengaja sudah terlelap. Saat terima KHS, tertera huruf A untuk matakuliah PAB. Hehe2x, padahal gak begitu ngerti apa yang dipelajarin
Kami semakin akrab dan semakin sering ketemu. Soalnya aku sering bantu dia juga, baik bantu saat dia ngajar di Labkom maupun di luar kegiatan belajar mengajar.
Saat skripsi, aku juga sering berkonsultasi masalah ERD dan DAD. Di sisi lain, aku juga sering bantu dia kalo pas dia ada tugas kuliah S2-nya. Juga saat sidang skripsi, bantuan dan dukungannya sungguh berarti bagiku. Mulai dari nge-print lampiran program skripsian sekitar 200 halaman yang belum sempet di-print saat pagi menjelang sidang, hingga dukungan moriil dan do'a. Bahkan tanpa lantaran bantuannya, mungkin aku blum bisa diwisuda bulan April kemarin. Di dua hari sebelum pendaftaran wisuda berakhir, saat pikiran ini sedang bingung memikirkan bagaimana caranya membayar uang wisuda, dia bertanya «Dah bayar wisuda blum?«. Dengan malu-malu dan berat hati, aku jawab dengan singkat, «Belum«. Selanjutnya dia bilang, «Udah, pake uangku dulu aja, yang penting kamu bisa wisuda». Ada rasa haru di hati ini, ternyata masih ada yang memberi perhatian padaku, lirih aku menjawab dengan mata berkaca, «Makasih…«.
Kebersamaan aku dan dia pun berlanjut hingga saat ini. Setelah lulus, aku ditempatkan di tempat yang sama dengan dia.
Saat bersama dia, aku merasa punya teman yang bisa memahamiku, yang bisa mengerti keadaanku, apa adanya. Aku merasa punya kakak yang senantiasa mendengarkan dan melindungiku. Aku merasa hidup ini lebih berarti. Dalam hati ini, aku bertekad untuk membalas semua kebaikannya, untuk senantiasa setia mendengar keluh kesahnya, untuk senantiasa saling membantu dalam suka dan duka. Ya Alloh, semoga Engkau selalu melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Mu pada dia.
Aku kan mencoba jadi adik yang baik. Mba Iinku, ijinkan aku memanggilmu kakak…


No comments
Be the first to write a comment on this post.
Write a comment
If you want to add your comment on this post, simply fill out the next form:
* Required fields
You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>.
2 trackbacks
To notify a mention on this post in your blog, enable automated notification (Options > Discussion in WordPress) or specify this trackback url: http://achmatim.net/2005/12/04/ijinkan-aku-memanggilmu-kakak/trackback/lang/id/