Parasut Pertama

Meskipun sketsa gambar parasut pertama kali dibuat oleh Leonardo Da Vinci sekitar abad ke-16, tapi tahukah anda bahwa yang pertama kali terjun menggunakan parasut dan selamat sampai di bumi adalah seekor anjing milik Jean Pierre Blanchard (1753-1809)dari Prancis yang ia terjunkan menggunakan Balon Udara. Blanchard sendiri akhirnya menggunakan parasut tahun 1793 ketika balon udara yang ia tumpangi meledak di udara yang akhirnya memaksa dia mencoba parasut ciptaannya sendiri.

Selamat Hari Raya Idul Adha

Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar
Laa Ilaaha illallohu Allohu akbar
Allohu akbar wa lillahi ilhamdu

Gema takbir, tahmid dan tahlil berkumandang, mengiring fajar Hari Raya. Selamat Hari Raya Idul Adha 1426H. Semoga segala amal dan ibadah kita diterima oleh Alloh SWT. Dan semoga kita semakin mendekatkan diri pada-Nya, sesuai dengan makna qurban.

Hari Raya Qurban tahun ini, seperti dua tahun terakhir, saya peringati di Jakarta. Kebetulan tidak memungkinkan untuk pulang ke kampung, karena kebetulan tidak ada libur. Pagi, sehabis sholat subuh, istirahat sebentar di kost-an. Pukul 6 lebih mandi dan bersiap ke masjid. Tahun ini, saya sholat di Masjid Jami’ Al-Abror yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dengan tempat kost.

Sampai di masjid, jama’ah sudah memenuhi masjid. Saya memaksakan diri untuk tetap masuk masjid, karena memang tidak membawa sajadah atau koran sebagai alas sholat. Akhirnya kudapatkan juga tempat di serambi masjid. Sebelum sholat ‘Ied, seorang ustadz menjelaskan tatacara sholat ‘Ied, sekedar mengingatkan bagi yang lupa, bahwa sholat terdiri dari dua raka’at dengan masing-masing tujuh dan lima takbir. Sholat ‘Ied berjalan dengan lancar. Selesai sholat dilanjutkan dengan khutbah. Pada intinya, khotib menyampaikan untuk meneladani keikhlasan dan pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihi Salam dan keluarganya untuk menjalankan perintah Alloh SWT, yakni menyembelih putra beliau, Nabi Ismail Alaihi Salam.

Pulang dari masjid langsung ke kost-an. Ngapain yach…? Kuputuskan tuk nyuci baju dan seprei serta bersih-bersih kamar. Selesai jam sepuluhan. Tiba-tiba ibu kost memanggil, suruh turun ke rumahnya. Ternyata disuruh makan ketupat sayur. “Kebetulan, perut lagi laper nich”, pikirku. Awalnya sih cuman sendiri, tapi kemudian seorang penghuni kost lain datang dan disuruh makan juga. Anaknya tinggi, kulit hitam, dan hidung mancung. Saya pikir pasti orang luar jawa. Sambil makan, iseng-iseng saya mulai bertanya, berkenalan. Dia jawab dengan singkat dan terkesan sekenanya. Logatnya logat Sumatra.

Ada hal yang cukup menarik dari obrolan kami. Berikut sedikit cuplikan obrolan kami, tentunya dengan bahasa yang sudah diedit oleh pikiran saya sendiri. Sebut saya dengan ‘A’ dan dia dengan ‘B’.

A : “Emang masih kuliah mas? Atau udah kerja?”
B : “Kuliah. Di BL”
A : Wah, BL ternyata BL juga nich
B : “Mas masih kuliah di BL juga?”
A : “Iya, tapi sudah lulus. Angkatan berapa mas?”. Kayaknya sih angkatan 2000 atau 2001
B : “Angkatan 2003. Lulus kapan? 2005 yach?”
A : “Iya. Mas sering ke lab donk..?”. Soalnya kok dia gak kenal saya, biasanya kan kalo mahasiswa sering ke lab pasti kenal saya, atau minimal pernah ngeliat.
B : “Jarang”
A : Pantesan… gak kenal. Tanyain ah, pernah ngeliat saya di lab gak?
B : “Sebenernya sih pengin sering-sering ke lab, tapi males. Di BL kan diskriminasi banget mas…”
A : “Diskriminasi gimana? antara mahasiswa dan assisten maksudnya??”
B : “Ya”. Lirih.
A : “Emang sih, assisten itu bebas make komputer kapan aja, tapi kan mereka punya tanggung jawab juga, untuk ngurusin komputer itu. Kalo komputer ada yang rusak, siapa yang ngebenerin?”
B : Diam
B : “Di BL itu masuknya gampang, tapi lulusnya susah”. Mengalihkan pembicaraan.
A : “Masak sih? Ya, tergantung mahasiswanya juga sih, banyak yang lulus cepet, tapi juga ada yang gak lulus-lulus, bahkan angkatan 93 pun masih ada. Mang pengin lulus kapan mas?”
B : “Ah…mungkin 2008 baru bisa lulus kali”. Pasrah
A : “Lho kok 2008?? Gak kelamaan mas?”. Lirih
B : Mendesah

Selesai makan, kembali ke kost, sambil masih terus memikirkan obrolan barusan. Ternyata memang, saya yakin, masih banyak mahasiswa yang kontra dengan assisten, menganggap bahwa ada diskriminasi antara assisten dan mahasiswa. Assisten bebas memakai komputer seenaknya, sementara mahasiswa dibatasi haknya. Saya kira ini memang masalah lama yang tak ada habisnya dari tahun ke tahun. Intinya sebenernya hanya masalah komunikasi. Dan dalam hal ini, assisten-lah yang harus berperan pro-aktif. Assisten-lah yang harus bisa membuka diri dengan mahasiswa, harus bisa berlapang dada untuk menerima masukan dari mahasiswa dan juga harus dengan ikhlas melayani mahasiswa dengan sebaik-baiknya. Buat temen-temen keluarga besar Labkom UBL, mari bersama-sama berikan yang terbaik untuk semua.

Semoga gema takbir Idul Adha masih selalu kita dengar dalam hidup dan kehidupan kita.

Paman yang Baik

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang duda dengan tiga orang anak yang sudah menginjak dewasa. Dua itu terbilang cukup kaya di desanya. Ia memiliki rumah, tanah, dan 19 ekor kerbau. Suatu saat duda tersebut mengalami sakit keras bahkan tipis harapan untuk sembuh. Merasa ajalnya sudah dekat, sang duda memanggil ketiga anaknya untuk diberi wasiat berupa pembagian harta warisan, terutama kesembilan belas kerbaunya.

Kepada anak sulung, sang ayah berpesan bahwa dia akan memperoleh setengah dari jumlah kerbaunya. Sedangkan anak yang kedua akan memperoleh seperempat dari jumlah kerbau, dan anak bungsu akan memperoleh seperlima dari jumlah kerbau yang duda itu miliki. Tak lama kemudian duda itu pun meninggal.

Setelah bapaknya dimakamkan dan situasi mulai tenang, ketiga ahli waris itu pun mengadakan rapat guna membagi 19 ekor kerbau peninggalan ayahnya tersebut. Kesembilan belas kerbau tersebut dibagikan sesuai dengan amanat almarhum ayahnya, yakni setengah untuk anak sulung, seperempat untuk anak kedua dan seperlima untuk si bungsu. Akan tetapi, mereka baru sadar bahwa hasil pembagian tersebut ternyata tidak utuh. Dari hasil pembagian tersebut, anak sulung menerima setengah dari 19 ekor kerbau. Artinya, menerima sembilan setengah kerbau. Demikian pula dengan anak nomor dua, dia akan menerima empat tiga perempat kerbau. Sedangkan si bungsu akhirnya hanya menerima tiga koma delapan kerbau.

Mereka menjadi bingung, tidak tahu bagaimana cara membagi kerbau-kerbau itu. Dalam kebingungan itulah, ego mereka masing-masing muncul. Semua menginginkan kerbau diterima utuh tanpa ada yang dipotong-potong. Si sulung menuntut lebih, mengingat dia adalah pewaris utama, sementara adik-adiknya yang lain pun tentu tidak mau mengalah.

Tidak jauh dari rumah mereka, sebenarnya tinggal paman mereka yang tergolong miskin. Tidak mempunyai banyak tanah dan hanya memiliki seekor kerbau warisan dari ayahnya dulu. Itu pun sudah sangat kurus dan tidak terawat.

Akibat kehidupannya yang miskin itulah, sang paman hampir tidak perbah diperhatikan oleh keluarga almarhum duda kaya itu, apalagi perhatian dari ketiga keponakannya. Namun demikian, berita mengenai pertentangan ketiga keponakannya dalam membagi sembilan belas kerbau tersebut sampai juga ke telinganya.

Setelah mengetahui titik permasalahannya, dengan hati yang tulus dia berkata kepada ketiga keponakannya itu, ”Ambillah kerbau paman yang satu-satunya ini, mungkin berguna untuk memecahkan masalah kalian bertiga!”

”Wah! Ide yang bagus. Kalau begitu, sekalian saja paman yang membaginya untuk kami. Supaya adil!” sahut si sulung dengan mantap.

Dengan senang hati, sang paman pun bersedia untuk membantu membagi kerbau warisan itu. Ditambah satu kerbau miliknya, jumlah kerbau sekarang menjadi 20 ekor. Sesuai dengan porsi pembagian yang telah diwasiatkan sang ayah, maka si sulung memperoleh sepuluh ekor kerbau (1/2 dari 20), adiknya yang nomor dua mendapatkan lima ekor (1/4 dari 20), dan si bungsu memperoleh empat ekor (1/5 dari 20).

”Apakah kalian puas dan merasa adil dengan apa yang telah kalian terima?” tanya sang paman.

”Sangat puas, Paman!” sahut ketiga keponakannya.

”Sesuai wasiat ayah kalian, sekarang masing-masing sudah mendapat 10, 5, dan 4 ekor kerbau. Jadi total jumlah kerbau yang dibagi ada 19 ekor, sedangkan kerbau yang ada adalah 20 ekor. Berarti ada sisa satu lagi. Nah, yang satu ekor ini paman bawa pulang lagi, ya!” pinta paman mereka dengan tersenyum.

Sumber : Setengah Isi Setengah Kosong (Parlindungan Marpaung)