Hikmah Jum’at : Tukang Tambal Ban Naik Haji

Seorang pengusaha yang berasal dari Jawa Timur suatu hari melakukan perjalanan menuju Jakarta dengan menggunakan mobil. Dia berangkat siang hari dan berharap keesokan harinya sudah tiba di Jakarta, karena ada rapat tender yang bernilai cukup besar.

Lewat tengah malam dia melewati daerah yang cukup sepi, tiba-tiba ban mobil bocor. Sialnya dia tidak membawa ban cadangan, mungkin karena buru-buru. Dia mencoba mencari tukang tambal mobil namun setelah sekian lama ternyata yang ditemukan hanya seorang tukang tambal motor. Si pengusaha meminta dengan sangat pada tukang tambal motor tadi untuk menambal ban mobilnya. Namun si tukang tambal ragu-ragu, karena memang dia biasanya hanya menangani ban motor.

Si pengusaha sekali lagi memohon bantuan, dan dengan tulus niat untuk menolong akhirnya si tukang tambal ban tadi berusaha menambal ban mobil milik si pengusaha. Tak lupa dalam hati sambil berdoa tulus agar si pengusaha bisa selamat sampai tujuan. Ban mobil pun berhasil ditambal.

Setelah mengucapkan terima kasih, si pengusaha melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta. Di tengah jalan, dalam hatinya dia berjanji, jika nanti tender yang akan dia tangani berhasil dan selesai, dia akan membalas si tukang tambal ban yang sudah menolongnya.

Akhirnya si pengusaha sampai di Jakarta dan dengan izin Alloh tender berhasil dimenangkannya.

Sebulan kemudian, project yang dikerjakan oleh si pengusaha sudah tuntas. Dia teringat pada janjinya. Dia kemudian kembali ke daerahnya di Jawa Timur, dan mampir ke tempat tukang tambal ban yang dulu telah menolongnya. Si pengusaha bertanya ke tukang tambal ban, “Saya berterima kasih sekali dulu bapak telah menolong saya, dan sekarang pekerjaan saya sudah selesai. Nah sekarang saya ingin sedikit membalas jasa bapak. Bapak ingin apa, nanti insya Alloh akan saya usahakan.”

Si tukang tambal ban menjawab dengan mata berkaca-kaca, “Saya hanya orang kecil pak, hidup seperti ini sebenernya sudah cukup bagi saya dan keluarga. Namun dalam hati suatu saat nanti saya berharap bisa naik haji ke tanah suci.”

Si pengusaha menjawab. “Ya sudah pak, saya akan mewujudkan harapan bapak. Sekarang bapak persiapkan diri bapak dan keluarga, bulan depan bapak bisa pergi haji. Semua biaya Insya Alloh saya yang tanggung.”

Demikianlah, akhirnya si tukang tambal ban tersebut naik haji beserta keluarganya atas biaya si pengusaha yang pernah ditolongnya dengan tulus. Subhanalloh.

Cerita hikmah diatas disampaikan oleh khotib di Masjid Darul Falah (Gang Mesjid) pada tanggal 18 Januari 2008. Dapat ditarik hikmah bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus pasti akan dibalas oleh Alloh SWT dengan kebaikan pula, bahkan berlipat ganda.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *