Akhirnya Datang Juga (Episode 2: Serasa Mimpi)

Pada postingan sebelumnya, saya dan istriku akhirnya memutuskan untuk pergi ke RS Aminah setelah terjadi kontraksi yang teratur. Lalu bagaimana dengan jadwal operasinya? Bagaimana dengan dokter yang menangani, serta bagaimana dengan istri dan anakku?

Ruang operasi Sesampainya di rumah sakit, istri langsung diperiksa oleh bidan dan dibawa ke ruangan bersalin. Kami yang mengantar, termasuk bu estu, tidak diperkenankan masuk ke ruangan tersebut. Sekitar setengah jam kami menunggu. Dalam hati saya cukup khawatir, takutnya istriku langsung dieksekusi (baca:dipaksa melahirkan). Beberapa saat menunggu, saya bisa bernafas lega. Saya sudah boleh masuk ke ruang bersalin. Istri sudah diinfus.

Selanjutnya kami diberitahu bahwa setelah bidan di RS tersebut berkonsultasi dengan dr Imanuddin, dokter yang dijadwalkan mengoperasi istriku hari senin besok, diputuskan bahwa akan ada dokter pengganti. Namanya dokter Adrian. Beliau bersama dua orang rekannya (asisten dokter) berangkat dari Purwokerto pukul 23.00. Jadi, kata ibu bidan, kemungkinan sampai di rumah sakit sekitar jam 24.00 malam. Selanjutnya bisa langsung operasi.

Sambil menunggu dokter datang, saya menemani istri sambil ngobrol ngalor-ngidul. Beberapa saat kemudian, pihak rumah sakit meminta tanda tangan saya dan istri surat pernyataan untuk keperluan operasi nanti. Saya juga langsung memesan kamar kelas 2 untuk opname istriku nanti.

Sekitar jam dua belas kurang lima menit tim dokter datang dari Purwokerto. Istriku dipersiapkan untuk operasi. Bajunya diganti dengan baju operasi dan dibawa ke ruang operasi. Kami masih menunggu karena dokter makan dan rehat dulu sebentar.

Tiba waktunya operasi, jam 12 lewat, tepatnya 00.09 hari minggu. Saya keluar dari ruang operasi. Cukup cemas menunggu istri di dalam ruang operasi, membayangkan apa yang terjadi 30, 60 menit ke depan.

Pukul 00.30 saya mendengar suara tangis bayi di ruang sebelah. Saya melongok dari jendela. Ternyata itu bayiku, anakku. Tangisnya kenceng banget. Ah gemuknya. Berat 3.8 kg, panjangnya 49 cm. Alhamdulillah selamat dan sehat. Ku bersyukur atas karunia-Mu ya Alloh.

Pukul 00.49 setelah anakku dibarut (tangan dan kaki dibalut dengan kain untuk membatasi gerak bayi), saya ambil wudhu dan saya mengumandangkan adzan di telinga kanan anakku tercinta, dan iqomah di telinga kirinya. Anakku terdiam khusuk menyimak alunan nama Alloh dan Rasul-Nya dikumandangkan.

Berikut ini foto-fotonya, yang diambil sesaat setelah saya kumandangkan adzan.

Lintang baru lahir

Lintang baru aja lahir

Sejenak kutinggalkan anakku, kulirik kamar operasi, pintu masih tertutup. Belum ada tanda-tanda operasi selesai. Kembali saya menungguinya di depan pintu ruang operasi.

Tiga puluh menit kemudian, dokter Adrian yang memimpin operasi keluar dari ruang operasi dan mengatakan bahwa operasi berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Untuk kesekian kalinya kubersyukur pada-Mu Ya Alloh. Saya menyalami dokter dan mengucapkan terima kasih.

Sampai sejam kemudian, 02.30, saya menemani istri saya yang masih terbaring dengan baju operasi. Tampak sehat dan segar. Saya bertanya mengenai bagaimana perasaannya berada di dalam ruang operasi. Saya bersyukur karena istri dapat melewati operasi tersebut dengan perasaan yang cukup tenang dan dalam kondisi fit. Bahkan salah satu tim dokter menyatakan bahwa istri saya sehat dan segar, boleh langsung makan dan minum dan tidak ada pantangan.

Berikut ini foto yang diambil pagi hari, setelah dimandiin.

Lintang tidur pulas

Lintang pulas

Selanjutnya istri saya dibawa ke kamar opname yang sudah disediakan. Saya menemaninya sampai pagi tiba. Nyaris belum sempat tidur. Sempat istri berujar, “Serasa mimpi ya, sekarang sudah punya anak, padahal baru kemarin menikah”.

Bersambung ke episode 3 (Dan kami memanggilnya, lintang)

Berbagi itu indah...Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Digg this

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *