Mari Belajar dari Anak-anak Kita

Anak-anak memang luar biasa! Saya sering terkagum-kagum melihat tingkah mereka. Memang benar kata orang bahwa anak merupakan sumber kebahagiaan orang tua. Setelah seharian penat dengan rutinitas maupun pekerjaan, pulang ke rumah, melihat tingkahnya yang lucu rasanya hilang semua penat dan pekat. Mereka tertawa tanpa beban, mereka bermain tanpa beban bahkan sampai menangis pun tanpa beban.

Tapi sampai kapankah seorang anak akan menjadi sumber kebahagiaan orang tuanya? Terkadang setelah dewasa, setelah sekian tahun tercurah kasih sayang orang tua untuk kita, justru kita malah membangkang, melawan atau menjadi beban orang tua. “Ya Alloh ampunilah dosa-dosaku, dan dosa kedua orang tuaku, dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku di waktu kecil…“. Amin.

Lalu, Apa yang hilang di diri kita setelah dewasa? Sehingga saat ini, sikap para orang dewasa yang menjunjung tinggi moralitas ketimuran dan sikap yang mencerminkan nilai-nilai Islami, seolah makin lentur bahkan luntur. Banyak orang dewasa yang begitu mudahnya marah (hingga berhari-hari) hanya karena hal sepele, banyak orang dewasa yang begitu teganya dengan sengaja “menjual” anaknya di jalanan, banyak suami-istri (yang juga orang dewasa) yang dengan entengnya kawin-cerai gara-gara masalah kecil, banyak pejabat negeri (semuanya orang dewasa) yang setiap hari kerjaannya menyalahkan orang lain, bahkan banyak tokoh agama (sudah tentu dewasa) yang hanya merasa dirinya-lah yang paling benar. Seperti itukah sebuah kedewasaan? Saya kira kita semua sepakat, bukan seperti itu namanya kedewasaan.

Gambar 1. Menangis...
Gambar 2. Bermain lagi

Mari kita bandingkan tingkah orang dewasa tersebut dengan tingkah anak-anak (kita). Sebagai ilustrasi, tingkah laku anak saya, Muhammad Lintang, semoga bisa dijadikan pelajaran kita bersama. Memang terkadang anak-anak kita marah dengan teman sepermainannya, bahkan sampai menangis (lihat gambar 1) namun itu tidaklah lama, sesaat kemudian anak-anak kita sudah bermain bersama lagi (Gambar 2). Sudah hilang tanpa bekas kemarahan dan tangisan sebelumnya, bahkan terkadang saat air mata masih berlinang. Saya kira luar biasa anak-anak kita! Tanpa rasa dendam, begitu mudahnya mereka saling memaafkan. Bagaimana dengan kita yang sudah (mengaku) dewasa?

Kalo soal ketulusan dan kepolosan, anak-anak kitalah jagonya. Saya sama istri sangat takjub dengan tingkah laku anak kami dalam mengekspresikan kegembiraan hingga rasa kasih sayang mereka untuk orang-orang di sekitarnya. Beberapa foto berikut ini mungkin bisa menjadi bukti dan pelajaran mengenai ketulusan dan kepolosan anak-anak kita.

Senyuman yang Tulus gaya Lintang
Ungkapan kasih sayang ala Lintang
Kasih sayang gaya anak-anak

Mari kita renungkan! Kemana semua kepolosan, kejujuran, sikap memaafkan, kasih sayang dan kebaikan lainnya dari diri kita yang pernah kita punya sewaktu kita masih kecil?? Semoga masih ada sisanya di diri kita.

4 comments

  1. Mudah bertengkar dan mudah pula berdamai. Ya, untuk urusan cepat berdamai setelah marahan, kita perlu belajar dengan anak-anak kita, bukan untuk urusan mudah bertengkar nya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *