Asma Nadia : Tidak Pede Membawa Nikmat
motivasi December 10th, 2005
Tahun 80-an, hampir semua kota besar di tanah air dibanjiri buku-buku cerita tentang akhirat. Buku itu menceritakan orang yang masuk neraka. Ia dibakar dengan api sangat panas atau ditusuk pedang tajam. Banyak yang takut dan ngeri membacanya, termasuk seorang bocah kelas satu sekolah dasar, Asmarani Rosalba, yang kini dikenal dengan nama pena Asma Nadia.
Karena Iseng-iseng membaca buku jenis itu, Rani, panggilan bocah perempuan itu, merasa takut, hingga terbawa ke tidurnya. Suatu malam, Rani bermimpi seram. Gadis kecil itu terkaget, kemudian terbangun. Segera diambilnya bantal untuk menutup wajahnya.
Tanpa sengaja, gerakan cepat itu menyebabkan bagian belakang kepala Rani terbentur besi kasur. Dia pun geger otak dan harus mengalami perawatan. Setelah sembuh, Rani kembali sekolah. Uniknya, dia terus mendapat peringkat satu hingga SMA. Sebelumnya, Rani berada di peringkat kedua.
Beranjak remaja dan memasuki masa kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), Rani harus terus berobat. Karena dampak dari benturan saat kelas satu SD itulah, Rani terpaksa berhenti dari IPB. Saat itu dia berada di tingkat dua jurusan mekanisasi pertanian.
Keluar dari kampus, tidak membuat gadis yang lahir di Jakarta, 26 Maret 1972 itu putus asa, apalagi minder. Dia mencoba mengembangkan bakat terpendam: menulis cerpen dan novel. Kini Rani tampil sebagai penulis fiksi ternama di tanah air. Sebagai penulis, orang lebih mengenalnya sebagai Asma Nadia.
Karya-karya Asma banyak dijumpai di toko-toko buku di Indonesia. Tidak kurang dari 20 buku berisi cerpen dan novel telah beredar. Tidak mengherankan jika penerbit sekelas Mizan menganugerahi ibu dua anak itu sebagai ‘’Pengarang Fiksi Remaja Terbaik 2003′’ dan berhak meraih Mizan Award.
Belum lagi, buah ciptanya pernah mendapat penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dan majalah Ummi. Oleh karena itu, Asma yang konsisten mengusung cerita-cerita fiksi bernapaskan Islam (dia lebih suka menyebutnya cerita-cerita pencerahan), tampil sebagai salah satu pelopor di dunianya.
Sejak kecil Asma sudah senang menulis puisi dan lagu. Helvy Tiana Rosa, sang kakak yang juga penulis ternama, juga banyak menulis cerita. Tentang kemampuan menulis lagu itu bisa dimaklumi karena ayah Asma, Amin Ivo’s, adalah pencipta lagu. Salah satu lagu ciptaannya, ‘’Kau Bukan Dirimu’’, dinyanyikan Dewi Yull.
Kegiatan membaca juga menjadi bagian lain dari masa kecil Asma, sehingga hal itu membuat ia suka menulis. Dari kecil dia dilimpahi buku oleh orang tuanya, meski kondisi ekonomi tidak baik. Jenis bukunya macam-macam, mulai dari komik, biografi, asal-usul, Agatha Christie, hingga lima sekawan. Asma tidak percaya kalau menulis itu karena garis keturunan.
‘’Aku pernah menulis tulisan berat, tetapi tidak bagus. Akhirnya, aku beralih ke cerita fiksi dan merasa duniaku ada di sana,’’ kata Asma. Cerita bertema dunia remaja pun menjadi garapannya. Bukan karena belum banyak penulis yang memfokuskan diri pada dunia itu yang membuat Asma bergelut di dunia remaja. Namun, karena kecintaan dan rasa senang yang besar untuk menggali kisah-kisah remaja.
Sebetulnya, kebiasaan menulis cerpen itu sendiri suda dilakukan dia sejak kelas satu SMP. ‘’Waktu itu aku menulis cerpen 11 halaman,’’ Asma menjelaskan. Seorang saudaranya yang aktif di teater berkomentar bahwa cerpen itu klise, pasaran. Kritik itu membuat Asma bertekad untuk menulis lebih baik lagi.
Baru kelas tiga SMP dia merasa perlu memiliki misi dalam menulis cerita. Jadi, bukan hanya membuat cerita asal jadi, tanpa maksud. Saat itu perempuan bersuami Alamsyah yang bekerja sebagai wartawan di televisi NHK Jepang Indonesia itu mulai mengenakan jilbab. Tulisannya langsung terarah. Misinya ingin menceritakan bahwa Islam itu universal.
Pada awalnya Asma mengaku tidak merasa percaya diri atas karya yang dibuatnya. ‘’Kakak saya bilang, terus masuki secara serius. Kalau sudah menang dua kali, gak usah mikir seperti itu,’’ kata Asma menirukan nasihat Helvy. Pada 1994 dan 1995, majalah Ummi memberi penghargaan kepada Asma sebagai juara penulisan cerpen.
Pada sisi lain, Helvy mengingatkan bahwa pengarang perempuan itu jumlahnya masih sedikit. Apalagi, mereka yang peduli pada dunia remaja dan mempunyai misi. Hal itu mendorong Asma untuk terus maju dan berkarya di tengah ketidakpercayaan dirinya.
Sebagai penulis, Asma memang tidak mengalami masa penolakan oleh penerbit atau surat kabar. Cerpen pertamanya berjudul “Surat Buat Assadullah di Surga”, di muat di Annida pada 1990. Begitu seterusnya, majalah seperti Ummi, Sabili, dan lainnya, menjadi tempat berkiprah wanita yang hobi menonton film itu. ‘’Kecuali film fiksi ilmiah, Aku kurang suka,’’ tandasnya.
Ketika ditamnya hubungannya dengan Helvy, Asma mengaku tidak merasa bersaing, meski sama-sama penulis. Yang ada, katanya, malah saling mendukung. Apalagi, bidikan mereka berbeda. Helvy menggarap pasar orag-orang dewasa dan serius. Sementara itu, ia oeduli pada dunia remaja.
Asma mengaku banyak belajar dari kakaknya yang terlebih dahulu menulis.
‘’Helvy-lah yang mengganti namaku jadi Asma Nadia, yang artinya nama yang menyeru,’’ kata Asma. Waktu itu, Asma bercerita bahwa ia menyerahkan cerpen kepada kakaknya untuk dibaca. Ketika melihat bahwa ia menggunakan nama Asmarani Rosalba, Helvy seketika menggantinya dengan Asma Nadia. Katanya, nama aslinya susah diingat.
Geger otak yang dialaminya itu tidak menghalanginya untuk aktif di berbagai kegiatan sekolah, dari SD sampai kuliah. Maria Eri Susanti, sang ibu, juga tidak mengekang putri keduanya itu untuk mengekspresikan dirinya di kepramukaan, karate, dan teater sekolah.
Namun, kondisi itu membuat Asma tidak boleh kerja keras secara fisik. Dia tidak boleh berbenah-benah dan kena debu, sehingga akhirnya tidak bisa masak. Untuk keperluan makan dia; suami; dan kedua anaknya; Eva Maria Putri, 6,5 tahun, dan Adam Putra Firdaus, 2,5 tahun; keluarga itu memelihara pengasuh.
Terhadap para pengasuhnya itu, Asma selalu mengingatkan kedua anaknya untuk tidak menganggapnya sebagai pembantu. ‘’Mereka adalah pengasuh Caca dan Adam,’’ kata Asma kepada keduanya. Caca adalah panggilan akrab putri pertamanya. Tentang pembantu, wanita yang menikah di usia ke-23 itu mengaku sangat respek terhadap nasib mereka. Dia pun menulis novel berjudul Derai Sunyi.
Kini, sejumlah obsesi pun terus menggantung di benak Asma. Penulis yang tinggal di Depok itu berharap, suatu hari, memiliki rumah singgah bagi anak-anak telantar. Dia juga ingin membangun sekolah. Di dunianya, Asma berharap dapat membuat sebuah novel remaja yang lebih serius dan nyastra.
Tags: motivasi, rekomendasi
Resensi : Ayat-ayat Cinta
motivasi November 27th, 2005
Engkaulah perempuanku
Engkaulah takdirku…
Terima kasih Tuhan, untuk cinta sekali yang Kau berikan.
(Asma Nadia, Cinta dalam Sepotong Diam)
Seharusnya ini hanya tentang cinta, tak lebih. Sebuah sms masuk dari seorang teman, “Lalu, cinta itu apa day?”. Sebuah pertanyaan yang juga menggelitikku setelah membaca buku yang sama, Ayat-ayat cinta.
Waktu novel ini dijadikan cerita bersambung di koran Republika, aku
sebenarnya tak tertarik, apalagi berhasrat tuk mengikutinya. Pertama, tentu saja karena aku tak membaca Republika secara rutin. Kalau lagi ada ya kulihat, dan cerita bersambung ini tentu saja baru dibaca bila aku sudah kehabisan hal menarik dikoran itu.
Yang kedua, karena aku pikir ini cerita punya Arab, karena nama pengarangnya berbau Arab, Habiburrahman el Shiraezy. Apalagi dengan setting di Mesir, dan sebagian bahasa Arab, Jerman dan Inggris. Aku tak bisa mempercayai ini buatan orang Indonesia. Aku pikir, ini cerita model Najib Mahfoudz. Lagipula aku pikir ini seakan-akan membuktikan sebuah hipotesis betapa penduduk negeri ini tergila-gila dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Arab, seperti yang tercantum dalam kata pengantar buku Even Angel Ask, yang mengatakan bahwa kita sering terpesona bahwa ini harus pakai bahasa Arab, padahal Nabi sendiri mengajarkan khutbah sholat saja dilakukan dengan bahasa penduduk setempat.
Alasan ketiga adalah dalam suatu frame yang sempat aku baca, aku melihat konyol sekali tokoh utama di Novel ini, ketika ia akan menikah, ia diberi biodata dan foto calon istrinya (sesuatu yang aku yakini jalannya), tapi dia tak melakukannya, dan dia baru mengetahui wajah istrinya ketika proses khitbah akan dimulai. Padahal Nabi menganjurkan, lihatlah dari calon istrimu, sesuatu yang akan bisa membuat tertarik.
Tapi kemudian seorang guru meyuruhku membaca Novel ini, ketika pertanyaan tentang cinta, menikah dan calon istri begitu besar memenuhi kepala ini.
“Kamu akan belajar banyak dari sini”, katanya, “sebelum kamu belajar hal yang lainnya”.
Entahlah, bagiku, sebuah rekomendasi buku, buku apa saja, rekomendasi dari mana saja sepanjang rekomendasi itu tidak murahan, membuatku mencari buku tersebut pada hari itu juga. Jadi ingat buku Memoir punya bung Hatta, setelah beberapa lama mendengar buku ini, 2 minggu yang lalu aku menemukannya di Senen, sayang versi Bahasa Inggris, yang membuatku mundur, dan kemudian penjual itu seakan-akan mengejekku, “belum lancar ya?’ hehe.
Ok, buku ini aku buka, aku baca dulu apa kata orang lain tentang buku ini, hmm, recommended banget rupanya. Lalu mulai baca biodata pengarangnya, ternyata Indonesia asli, hanya memang pernah tinggal di Mesir.
Bab-bab awal, penulis mencoba mengenalkan semua tokoh yang nantinya akan terlibat. Lumayan lambat dan bertele-tele sih diawalnya mungkin karena ingin mengemukakan semua hal diawal sih sehingga sebuah perjalanan untuk mengaji saja akan memakan 50 halaman. Tapi mungkin memang cerita ini harus bermula dari sini. Pertemuan tokoh utama yaitu Fahri dengan Maria, seorang Qibti yang hafal surat Maryam; dengan Alicia, wartawan Amerika yang karena dia Amerika tidak disukai di Mesir, sehingga lupa dia adalah perempuan yang harus dihormati yang akan menimbulkan konflik selama di Bus; dengan Aisha, wanita campuran Jerman dan Turki yang kaya raya yang nantinya akan jadi istrinya; semua ingin dijabarkan diawal. Jujur kejutannya sudah hilang, ketika semua tokoh perempuan muncul, hmm ini akan jadi cinta segilima ketika tokoh Nurul, putri Kiai besar di Jawa dan Nourma, wanita yang ditolong oleh tokoh utama, muncul.
Naif dan sederhana bagiku, tapi entahlah ada sesuatu yang menarik hingga tak bisa aku berhenti. Cerita mengalir indah, tapi mungkin karena penulis tahu anatomi masyarakat Mesir, kelemahan dan harga dirinya, ini mirip sebuah sajian antropologi Cliffort Geertz. Kita dibawa, seakan-akan menjelajahi sebuah masyarakat yang begitu dekat dengan hidup kita. Pengetahuan hadis dan ayat Alqurannya, membuatku merasa kecil hati, aku tak tahu apa-apa rupanya. Tapi yang tentang kesehatannya, hehe disini boleh nyombong, banyak yang salah dalam buku ini.
Ini tentang cinta, penuh, hampir satu buku. Tapi disini cinta itu terasa indah, romantis tanpa harus sevulgar novel Indonesia sekarang. Tentang cinta yang disandarkan pada Allah, dan Allah membalasnya dengan amat baik. (jadi ingat seorang teman, ketika dia bilang hanya akan menikah dengan orang yang bisa mencintainya karena Allah).
Ceritanya bergulir cepat. Fahri disini menjadi pria ideal. Dengan Alicia, wartawan dari Amerika itu, ia mencoba menjawab semua pertanyaan tentang Islam itu apa. Ia merangkum berbagai tulisan untuk menjawabnya. Dan setelah selesai, ia memberikan tulisan itu pada Alicia yang nantinya akan menerbitkannya di Amerika. Dengan Maria,
gadis qibti itu, mereka berteman dengan sangat baik, Fahri berusaha menjadi tetangga yang baik bagi keluarga Maria. Dan semua kebaikan itu, menimbulkan pesona yang percikan apinya menyentuh hati Maria. Dengan Nourma, ia menjadi pahlawannya. Ialah yang berani untuk menjauhkan Nourma dari orang tuanya yang galak, mencari tahu jati diri orang tua Nourma yang kemudian menyatukan Nourma dengan orang tua
kandungnya. Dengan Nurul, anak kiai besar di pulau Jawa, mereka tahu kemana akan saling meminta tolong jika diperlukan. Simpati itu timbul, dan bagi Fahri sendiri, nama Nurul mampu menggetarkan hatinya walaupun disatu sisi ia tahu ada perbedaan kufu dan perasaan rendah dirinya. Dengan Aisha, ia terlihat luar biasa dimata Aisha, kefasihannya,
kedalaman agamanya dan kemuliaan akhlaknya memikat hati Aisha. Di sini cinta bersemi, tetapi disini juga cinta menemukan pelabuhannya. Disini cinta tak menjadi murahan yang diobral setiap saat ketika sesuatu belum jelas halalnya. Fahri memiliki rencana dalam
hidupnya. Ditahun itu ia berniat menikah, tetapi ia akan membiarkan waktu mengalir dan biarkan Alloh yang menentukan takdirnya. Tiba-tiba Nurul memintanya untuk menghubungi seorang kenalannya. Keterbatasan waktu Fahri membuatnya tak bisa memenuhi dengan cepat. Disisi lain Fahri diminta guru ngajinya untuk menikah dengan seorang yang memintanya yang dikemudian hari baru diketahui bernama Aisha.
Disini cinta menemukan jawabannya, tapi disini pula cinta menemukan kesendiriannya. Menikah bukanlah sekedar mencari pilihan. Ia harusnya menjadi pertimbangan objektif bukan subjektif. Kriteria disusun terlebih dahulu, baru pilihan tiba. Seharusnya akal sehat yang bermain, sebab cinta lebih mudah tumbuh daripada karakter pribadi. Setelah mengetahui siapa wanita itu, Fahri masuk kedalam suasana untuk lebih mengetahui visi dan mimpi calon istrinya. Dan keajaiban cinta berbicara, tak ada satupun yang menghalanginya. Maka Khitbah dilakukan dan waktu pernikahan ditentukan.
Tetapi ada waktu yang tak pernah bisa diputar ulang. Kenalan Nurul datang beberapa jam sebelum akad, dan menanyakan bersediakah Fahri menikahi Nurul. Sebuah cobaan datang tepat dihari yang seharusnya bahagia itu. Kenapa terlambat? Kenapa hati yang tergetar hanya tuk satu nama itu terlambat mengetahuinya? Siapa yang salah? Pengecutkah Fahri dengan rasa rendah dirinya? Ada penyesalan hadir, andai waktu… Tapi Fahri tak mungkin mundur, Fahri tak mungkin mengkhianati perjanjian yang sudah dilakukannya. Tapi ternyata hati ini harus menangis.
Ada banyak hati yang patah, ada banyak hati yang menyesali kenapa waktu tak berpihak. Bagi Maria dan Nourma, pertanyaan yang tersisa adalah hanya menangisi yang tersisa. Kenapa bertepuk sebelah tangan? Bagi Nurul, waktulah yang disesalinya. Kenapa terlambat? Andai waktu bisa berputar balik. (sebuah pertanyaan dan permintaan yang sama padaku terjadi beberapa waktu lalu). Tapi jodoh adalah urusan-Nya, bukan milik kita. Lihatlah bagaimana mereka menyikapinya. Bagi Nurul, hidup harus berlanjut. Menikah bukanlah sebuah urusan yang bisa ditunda. Cinta itu tetap ada, tapi menghadapi realitas lebih penting lagi bagi jiwa matang yang menyandarkan cinta pada Sang Pemilik cinta. Nurul menerima lamaran dari pria lain, dengan keyakinan bahwa cinta adalah urusan-Nya, Dia akan menumbuhkan bunga lain ditaman hati jika Dia berkehendak. Bagi Maria, ini adalah kepedihan. Maria sakit, koma, yang hanya terobati oleh Fahri. Atas kebesaran jiwa Aisha, istri Fahri, Fahri akhirnya diizinkan menikah dengan Maria.
Sedangkan Nourma, ternyata ia hamil setelah diperkosa bapak angkatnya. Dan cerita mengalir menuju klimaks ketika Nourma menuduh Fahri memperkosanya. Tapi kebenaran itu milik Allah, jawaban itu pun muncul diakhir cerita. Fahri bebas, Nourma mengakui kebohongannya adalah usaha agar Fahri mau menikah dengannya. Lalu cinta itu apa? Pertanyaan itu masih tersisa dan mungkin kita punya jawabannya sendiri. Ia adalah sebuah hal abstrak, karunia-Nya agar kita tahu arti dari kasih sayang itu, agar hidup kita bisa selalu terpenuhi dengan senyum, ketika kebahagiaan itu muncul melihat wajah saudaramu, kekasihmu atau orang tuamu. Bahkan udara ini pun bukti cinta-Nya pada kita.
Ini harusnya bukanlah tentang apakah aku ridha terhadap keputusan-Mu, tapi tentang “Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha “.
(doa Muhammad di Thaif)
Tags: motivasi, rekomendasi
Mengenal Karakter : Anekdot Harvard vs Stanford
motivasi November 22nd, 2005
Suatu siang sepasang pasutri turun dari KA di Boston, AS. Yang
perempuan mengenakan rok lusuh kedodoran. Suaminya terbalut pantalon
tenun yang sudah usang. Mereka bermaksud menemui rektor Harvard
University di kota tersebut.
“Beliau sedang sibuk,” ujar sekretaris rektorat ketus.
“Kalau demikian, kami akan menunggu,” jawab sang wanita.
Terganggu dengan kedatangan orang dusun tak diundang, sang sekretaris
sengaja mendiamkan tamunya seraya berharap mereka akan putus asa dan
pergi. Ternyata tidak. Pasutri itu sabar dan rela menunggu berjam-
jam, sampai akhirnya sekretaris terpaksa membujuk rektor agar menemui
mereka.
Tamu perempuan memulai pembicaraan. “Kami punya anak laki-laki yang
belajar di Harvard. Ia amat mencintai almamaternya. Bulan lalu ia
meninggal karena kecelakaan. Kami bermaksud membuat semacam monumen
peringatan untuk anak kami tercinta di kampus ini.”
“Nyonya,” sergah rektor dengan nada gusar, “Kami tidak bisa
meluluskan permintaan Anda. Kalau setiap almunus Harvard meninggal
dan patungnya dipajang, tempat ini akan seperti kuburan masal.”
“Maaf, kami tak bermaksud begitu. Kami hanya ingin menyumbang gedung
untuk universitas ini.”
Mata sang rekror terbelalak. Sambil menatap pakaian tamunya yang
lusub, rektor menjawab. “Sudahkah Anda pikirkan berapa besar
biayanya? Untuk membangun sarana fisik kampus ini kami mengeluarkan
lebih dari limajuta dollar!”
Perempuan tersebut terdiam. Rektor tersenyum penuh kemenangan. Mana
mungkin mereka punya uang sebanyak itu. Seraya melirik suaminya,
perempuan itu berkata lirih, “Kalau biayanya hanya sebesar itu,
kenapa kita tidak membangun universitas sendiri saja?” Suaminya
mengangguk. Akhirnya pasutri yang belakangan diketahui bernama Leland
& Jane Standford tersebut berpamitan.
Sejarah mencatat tanggal 1 Oktober 1891 di Palo Alto, California,
berdiri megah sebuah universitas yang menyandang nama mereka.
Standford University, monumen peringatan untuk putra mereka yang
tidak lagi dipedulikan Harvard.
Dongeng di atas memang cuma “lelucon” belaka. Namun oleh Malcolm
Forbes, pernah dikutip untuk memberi ilustrasi, “Kita bisa menilai
karakter orang dengan melihat cara mereka memperlakukan orang lain.”
(intisari)
Tags: motivasi
Tempat Paling Jarang Hujannya
motivasi, umum October 23rd, 2005
Tempat paling sedikit hujannya ada di Arica, Chile. Dalam setahun
rata-rata hanya mendapat 0,76 mm curah hujan. Setidaknya membutuhkan
waktu 100 tahun untuk memenuhi satu cangkir kopi.
Tags: general, motivasi, pernakpernik
Berbuat Baik
motivasi October 1st, 2005
Adalah Arman, seorang lulusan sebuah madrasah kota kecil di Jawa Timur.
Dengan penuh semangat dan harapan, pergilah dia ke Jakarta. Bayangan
semula, Jakarta adalah segalanya dan dia akan diterima dengan ramah,
diberi kedudukan sesuai dengan ketrampilan dan pendidikan yang telah ia
miliki.
Kenyataan lain. Benarlah bahwa sekejam-kejamnya ibu tiri masih lebih kejam
ibu kota. Dia terdampar di Jakarta dan terlibas tanpa ampun. Beruntung
seorang rekannya bersedia memberi sekedar tumpangan bila malam tiba untuk
melepas lelah setelah sehari berkeliling kota tanpa hasil.
Pasrah, itulah satu-satunya kata yang akhirnya ia ucapkan. Arman terdampar
di sebuah pasar di Jakarta Utara, menjadi buruh menurunkan sayur dan buah
dari mobil truk ke tempat kios-kios pedagang . Sekedar rupiah untuk
meneruskan hidup, cukuplah sementara baginya. Mau apa lagi ?
Suatu hari, menjelang tengah hari belum sepeserpun uang ia peroleh. Entah
mengapa, hari itu pasar sepi. Beruntung kemudian ada seorang ibu dengan
belanjaan cukup banyak memintanya untuk membantu membawa belanjaan ke
mobilnya. Lumayan, ia akhirnya punya uang untuk membeli sarapan. Sesaat
sarapan sudah ditangan, tinggal menyuap, datanglah seorang pengemis renta
dan tuna netra. ”Den, kasihani saya. Sudah dua hari tidak sesuap nasipun
saya makan” katanya memelas. Sejenak terjadi pertentangan batin antara ego
perut lapar dan simpati pada penderitaan orang lain. Entah ada kekuatan
dari mana, Arman langsung menyerahkan makanan di tangannya ke pengemis
tersebut. ”Terima kasih den, semoga Allah, Tuhan YMK membalas kebaikan
aden” demikian kata pengemis tersebut sambil berlalu.
Arman menitikkan air mata. Si penjual makanan melihatnya kemudian berkata
penuh penyesalan : ”Gimana sih, kamu ini. Dari pagi nggak dapet uang,
begitu dapet buat sarapan malah dikasih ke orang. Pengemis begitu memang
pekerjaannya. Buat apa kita kasihan sama mereka”. Tanpa peduli kata
penjual makanan, Arman menengadahkan tangannya ke atas, berdoa : ”Ya Allah
Yang Maha Kasih. Segala puji bagiMu yang telah memberikan padaku kekuatan
untuk berbuat baik”.
Benar-benar satu fenomena menarik. Di jaman dengan situasi seperti ini, di
mana materi sudah serasa menjadi ”tuhan”, diperjuangkan dengan penuh
ketamakan, tanpa peduli keberadaan orang lain, semangat berbuat baik sudah
semakin jauh. Dengan demikian, fenomena di atas bisa jadi merupakan barang
langka. Kata anak-anak sekarang “Hare gene, masih mau nolong orang ?”
Mungkin juga hal tersebut berbeda dengan fenomena kebersegeraan orang
untuk mengulurkan tangan di saat terjadi bencana. Di saat bencana, memang
sangat mungkin untuk sesaat kita membuat refleksi, nama Allah, Tuhan YMK
disebut-sebut dengan sangat intensif, walaupun seiring berjalannya waktu,
hal tersebut memudar.
Tetapi fenomena Arman berbeda. Keberadaan pengemis bukan sesuatu yang
mampu menghentak nuansa hati manusia umumnya. Sehingga yang hatinya
terketuk, pastilah bukan manusia biasa. Apalagi dia juga bukan orang yang
berkecukupan.
Nah, di saat Ramadhan menjelang, fokus bahwa salah satu makna puasa adalah
mengajar kita agar mampu merasakan penderitaan orang lain, memang sangat
tepat. Berbuat baik yang dipicu oleh rasa syukur kepada Allah, Tuhan YMK,
adalah kaidah dasar perilaku manusia yang harus terus dipupuk, kalau kita
tidak ingin kehilangan hakikat kita sebagai ciptaanNya yang paling
sempurna.
tdw
Tags: motivasi
Anak Penyedia Batu
motivasi September 10th, 2005
Anak Penyedia Batu
Kisah ini bermula ketika saya menyempatkan diri berkunjung ke sebuah daerah terpencil di Jawa Tengah.
Dalam perjalanan, saya menjumpai seorang anak berpakaian kumal yang bekerja sebagai penyedia batu. Sehari-hari bocah itu harus bekerja mengangkat bongkahan-bongkahan batu yang besar, dan berjalan kaki mengantarkannya ke suatu tempat yang berjarak tiga kilometer dari lokasi pengambilan batu.
Saya terkesan melihat cara bocah itu bekerja. Apalagi setelah mengetahui, bahwa upaj yang diperolehnya sangat minim. Bayangkan, untuk sekali bolak-balik (6 kilometer), bocah itu hanya mendapatkan upah 50 rupiah!
Yang lebih menarik, semua kerja berat itu ia lakukan dengan senang hati, tanpa keluh kesah tergambar di wajahnya. Dengan rajin, anak lelaki itu mengangkat batu-batu besar, berjalan tiga kilo, balik lagi sejauh tiga kilo… mengangkat batu selanjutnya, berjalan lagi… dan seterusnya.
Sesekali terdengar siul riangnya, saat tangan kurusnya memasukkan sekeping uang logam lima puluhan ke kantong (Tiba-tiba saya teringat anak-anak lain di Jakarta, yang sering segan menggenggam keeping uang yang sama).
Rasa iba saya menguak. Saya tawari dia tempat tinggal dan kesempatan sekolah di Jakarta. Anak lelaki itu menyambut dengan gembira.
Begitulah… setelah berpamitan dengan ibunya, anak itu memulai kehidupannya di Jakarta.
Tahun demi tahun berlalu… bocah lelaki itu menyelesaikan tahap-tahap pendidikannya dengan sangat baik. Ia bahkan selalu mendapatkan rangking tiga besar di kelas. Secara rutin, saya selalu meminta dia untuk tidak lupa mengirim surat, dan memberi berita baik pada ibunya.
Anak lelaki itu pun mulai tumbuh remaja, namun ia tak pernah berubah. Selalu saja ada yang dikerjakannya di rumah. Mulai pekerjaan dapur, sampai menyapu. Meski di tempat tinggal kami, hal-hal seperti itu sudah ada yang mengurus.
Sampai akhirnya bocah lelaki itu berhasil lulus dengan memuaskan dari perguruan tinggi negeri tempat ia belajar. Saya menyambut keberhasilan itu dengan rasa haru yang dalam, dan memintanya segera mengabarkan ibunya berita baik ini.
Sekarang, bocah lelaki itu telah menjadi seorang pengusaha yang sukses dan hidup mapan. Namun kerendahan hati, dan sifat suka bekerjanya tak berubah. Ia masih ringan tangan dan selalu berusaha membantu.
Meski sudah menjadi ‘orang’, setiap kali ke rumah… dengan santai ia menggulung lengan bajunya dan mulai mencuci piring, menyapu, atau sekedar ikut membereskan pekerjaan rumah.
Hal lain yang sangat menghibur hati saya, adalah baktinya pada Ibu yang melahirkannya. Ia tak pernah lupa menelepon saya, untuk menceritakan tentang ibunya, dan memberi ‘kabar baik’ dengan nada gembira.
“Alhamdulillah, Pak, saya sudah belikan Ibu rumah.” Atau, “Pak Houtman? Alhamdulillah Ibu baik. Saya sudah belikan Ibu sawah, Pak!” Dan seterusnya.
Dan setiap kali dia menelepon, saya tahu… lelaki itu tak pernah melupakan ibunya!
(Seperti yang diceritakan Bpk Houtman Z. Arifin)
Pelangi Nurani (Asma Nadia)
Tags: motivasi
Ketika Saya Meminta
motivasi August 15th, 2005
Saya minta kekuatan,
Tuhan memberi saya rintangan untuk membuat saya kuat.
Saya minta kebijaksanaan,
Tuhan memberi saya masalah untuk saya pecahkan.
Saya minta kekayaan,
Tuhan memberi saya akal untuk bekerja.
Saya minta keberanian,
Tuhan memberi saya bahaya-bahaya untuk saya atasi.
Saya minta Cinta,
Tuhan memberi saya seorang pasangan yang selalu mengasihiku
Saya minta kasih,
Tuhan memberi saya anak-anak terlantar untuk saya bantu.
Saya minta karunia,
Tuhan memberi saya kesempatan.
Dalam semua hal itu, saya tidak menerima apa yang saya inginkan,
Tetapi saya menerima apa yang saya butuhkan.
Ternyata doa saya dikabulkan.
Amin…..
Tags: motivasi
Cintailah Cinta
motivasi August 15th, 2005
Memang menyakitkan ketika kita mencintai seseorang, namun ia
tak membalasnya, tetapi yang lebih menyakitkan adalah ketika
kita mencintai seseorang dan kita tidak pernah dapat menemukan
keberanian untuk mengungkapkan perasaan kita padanya.
Sebuah hal yang menyedihkan dalam hidup ketika kita bertemu
dengan seseorang, yang sangat berarti bagi kita, hanya untuk
mengetahui pada akhirnya seseorang tersebut tidak ditakdirkan
untuk bersama kita, sehingga kita harus dengan berat hati
membiarkannya pergi dan berlalu.
Teman terbaik adalah teman dimana ketika kita duduk bersama
disebuah ayunan, tanpa ada ucapan sekatapun, dan ketika harus
berpisah dengannnya, terasa seolah hal tersebut merupakan
percakapan paling menyenangkan yang pernah dilakukan bersama.
Adalah benar bahwa kita takkan pernah tahu apa yang telah
kita dapatkan hingga kita kehilangannya. Tetapi adalah benar
juga, ketika kita tidak tahu apa yang telah hilang hingga hal
tersebut menghampiri kita.
Impikan saja apa yang ingin kita impikan, pergi saja kemanapun
kita ingin pergi, jadilah sebagai sosok yang kita inginkan,
karena kita hanya memiliki satu buah kehidupan dan satu buah
kesempatan untuk dapat melakukan semua hal yang kita inginkan.
Letakkan diri kita sebagai layaknya orang lain, jika kita
merasa hal yang kita lakukan akan menyakiti diri kita, hal
tersebut mungkin akan menyakiti yang lain pula.
Kata-kata yang terucap tanpa perhitungan mungkin akan
menyulut perselisihan, perkataan yang kejam dapat menghancur-
kan kehidupan, sebuah kata yang tak tepat mungkin juga mampu
menambah beban batin seseorang, dan… sebuah kata yang penuh
cinta kasih mungkin dapat menyembuhkan dan memberikan berkah.
Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak merasa
selalu membutuhkan semua hal terbaik, mereka hanya berfikir
bagaimana mencipta semua hal menjadi terbaik bagi mereka,
yang berlalu dalam hidupnya.
Cinta dimulai dengan sebuah senyum, kemudian tumbuh dengan
sebuah kecupan, dan berakhir dengan air mata. Ketika kita
dilahirkan, kita menangis begitu kerasnya, sementara orang-
orang disekeliling kita tersenyum bahagia. Ketika kita
menanggalkan hidup maka, kita adalah pihak yang tersenyum
begitu bahagia… sementara orang disekeliling kita menangis.
(submitted by Satriyo H.Wibisono, satriyohw@j…)
Tags: motivasi
Cinta Laki-laki Biasa
motivasi August 12th, 2005
MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa
dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,
hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi
bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan
Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata
sama herannya.
“Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati
hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar
bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata
yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania
terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia
hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya
kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan
detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi
kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara
mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania
menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania
dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga
generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa
serta buntut mereka.
“Kamu pasti bercanda!”
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak
tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir
dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika
mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania
yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap
Nania!
“Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli
memang melamarnya.
“Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira
Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!”
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah
pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah
itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata
penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
pesakitan.
“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?” Mama mengambil inisiatif
bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama
siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus
iya, toh?”
Nania terkesima.
“Kenapa?”
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang
busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris,
juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan
laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian
mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.
“Nania Cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan
sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium
empat. Parah.
“Tapi kenapa?”
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan
pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang
amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi
menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di
mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang
dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya.
Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli
tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan
yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga.
Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering
berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari
Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan
kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar
hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan
mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat
perempuan itu sangat bahagia.
“Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
“Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!”
“Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”
“Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini
dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik
mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu
bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka
sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan
satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin
setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji
Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.
“Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak
terlalu memforsir diri.
“Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.”
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu
khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya
maksud baik.
“Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?”
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu
sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran
Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan
gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin
gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak
pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup
perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan
dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi
Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan
perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari
puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama
kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat
Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua
minggu dari waktunya.
“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan!”
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke
dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga
perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya
normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit.
Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar
mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit
dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit.
Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
“Baru pembukaan satu.”
“Belum ada perubahan, Bu.”
“Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian
menyemaikan harapan.
“Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.”
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang
memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan
pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab
dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan
mereka meleset.
“Masih pembukaan dua, Pak!”
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit
yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin
payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
“Bang?”
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
“Dokter?”
“Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”
Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang
karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu
kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah
sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan
ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa
berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya
naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap
teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang
bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir
lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
“Pendarahan hebat.”
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!
Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua
mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung
beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh
darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti
kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan
juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi
itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya.
Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di
rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si
kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak
keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah
sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak
perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh.
Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran
kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak
famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu
bercakap-cakap dan bercanda mesra.
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
“Nania, bangun, Cinta?”
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi
dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan
berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke
rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya
mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah
sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian
ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
“Nania, bangun, Cinta?”
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan.
Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat
lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang
menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan
ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya
yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering
lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata,
gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di
wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah
penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun
terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke
sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu
cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja
datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang
jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun
tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania
mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan
lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah
selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah
perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata
Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan
keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan
di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut.
Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu
melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang
di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada
Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari.
Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di
jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas
hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua
berbisik-bisik.
“Baik banget suaminya!”
“Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”
“Nania beruntung!”
“Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”
“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana
suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin
frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian.
Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali
selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu
kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,
anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati,
kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak
berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia,
meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki
biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.
- Asma Nadia -
Tags: motivasi
Achmad Solichin, male, married, 26 years old, moslem, work as staff and lecturer at 
