Konsekuensi Sebuah Pilihan
personal October 27th, 2008
Hidup adalah pilihan. Banyak hal di hidup dan kehidupan kita yang menuntut sebuah pilihan. Kita harus dapat menentukan di antara dua, tiga, dan bahkan sekian banyak pilihan. Sekolah, pekerjaan, pendamping hidup, kesemuanya merupakan contoh dimana kita berhak memilih, walaupun semuanya masih dalam ruang kekuasaan-Nya. Dan setelah kita memilih, pastilah ada konsekuensi maupuan akibat yang kita peroleh. Kita harus ikhlas menerimanya, kita harus dapat menjalaninya, karena itu memang pilihan kita.
Salah satu pilihan yang saya pilih, sehubungan dengan prosesi kelahiran istri saya, adalah masalah tempat. Saya memilih (baca:bersepakat dengan istri) untuk melahirkan di kampung halaman saja. Alasannya, agar ada keluarga yang menemani dan membantu. Disamping karena memang kami belum berpengalaman dalam hal tersebut, jadi masih perlu banyak belajar dari orang lain.
Dari pilihan tersebut, tentu ada konsekuensi yang harus kami terima. Saya setidaknya dalam sebulan terakhir sudah 4 kali pula bolak-balik ke kampung. Pertama, saat mengantar istri pulang kampung pertengahan puasa kemarin, kedua saat lebaran, seminggu kemudian pulang kampung lagi saat istri mau melahirkan, selanjutnya kemarin juga pulang kampung saat istri masih terus-terusan pusing dan mual pasca melahirkan. Selanjutnya minggu besok, juga, saya insya Alloh akan pulang kampung lagi dalam rangka acara akekah dan syukuran anak saya, Lintang.
Istri pun demikian, harus turut menanggung konsekuensi dari pilihan kami. Setidaknya untuk satu atau dua bulan ke depan tentu akan jarang ditemani oleh saya, suaminya. Itu artinya, kadang kesepian datang mendera. Seringkali istri menyatakan keinginannya agar saya bisa menemaninya selalu di sisinya.
Semoga semua ada hikmahnya. Buat istriku, mari kita bersabar, demi masa depan kita dan Lintang. ![]()
Tags: keluarga



Sukses. Sesuatu yang selalu dicari dan diidam-idamkan semua orang. Orang rela sekolah dari SD sampai kuliah pun ujung-ujungnya ingin menggapai yang namanya sukses tersebut. Namun tidak semuanya berhasil menggapainya. Kadang harapan tinggallah harapan, kenyataannya, sukses belum juga tercapai.
Alhamdulillah atas segala anugerah yang Alloh berikan. Banyak sekali nikmat-Mu yang kami terima hingga kami tidak mungkin bisa menghitungnya. Ajarkan kami bagaimana caranya mensyukuri segala nikmat dan karunia-Mu. 

Achmad Solichin, male, married, 26 years old, moslem, work as staff and lecturer at 
