Asma Nadia : Tidak Pede Membawa Nikmat

motivasi December 10th, 2005

Asma NadiaTahun 80-an, hampir semua kota besar di tanah air dibanjiri buku-buku cerita tentang akhirat. Buku itu menceritakan orang yang masuk neraka. Ia dibakar dengan api sangat panas atau ditusuk pedang tajam. Banyak yang takut dan ngeri membacanya, termasuk seorang bocah kelas satu sekolah dasar, Asmarani Rosalba, yang kini dikenal dengan nama pena Asma Nadia.

Karena Iseng-iseng membaca buku jenis itu, Rani, panggilan bocah perempuan itu, merasa takut, hingga terbawa ke tidurnya. Suatu malam, Rani bermimpi seram. Gadis kecil itu terkaget, kemudian terbangun. Segera diambilnya bantal untuk menutup wajahnya.

Tanpa sengaja, gerakan cepat itu menyebabkan bagian belakang kepala Rani terbentur besi kasur. Dia pun geger otak dan harus mengalami perawatan. Setelah sembuh, Rani kembali sekolah. Uniknya, dia terus mendapat peringkat satu hingga SMA. Sebelumnya, Rani berada di peringkat kedua.

Beranjak remaja dan memasuki masa kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), Rani harus terus berobat. Karena dampak dari benturan saat kelas satu SD itulah, Rani terpaksa berhenti dari IPB. Saat itu dia berada di tingkat dua jurusan mekanisasi pertanian.

Keluar dari kampus, tidak membuat gadis yang lahir di Jakarta, 26 Maret 1972 itu putus asa, apalagi minder. Dia mencoba mengembangkan bakat terpendam: menulis cerpen dan novel. Kini Rani tampil sebagai penulis fiksi ternama di tanah air. Sebagai penulis, orang lebih mengenalnya sebagai Asma Nadia.

Karya-karya Asma banyak dijumpai di toko-toko buku di Indonesia. Tidak kurang dari 20 buku berisi cerpen dan novel telah beredar. Tidak mengherankan jika penerbit sekelas Mizan menganugerahi ibu dua anak itu sebagai ‘’Pengarang Fiksi Remaja Terbaik 2003′’ dan berhak meraih Mizan Award.

Belum lagi, buah ciptanya pernah mendapat penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dan majalah Ummi. Oleh karena itu, Asma yang konsisten mengusung cerita-cerita fiksi bernapaskan Islam (dia lebih suka menyebutnya cerita-cerita pencerahan), tampil sebagai salah satu pelopor di dunianya.

Sejak kecil Asma sudah senang menulis puisi dan lagu. Helvy Tiana Rosa, sang kakak yang juga penulis ternama, juga banyak menulis cerita. Tentang kemampuan menulis lagu itu bisa dimaklumi karena ayah Asma, Amin Ivo’s, adalah pencipta lagu. Salah satu lagu ciptaannya, ‘’Kau Bukan Dirimu’’, dinyanyikan Dewi Yull.

Kegiatan membaca juga menjadi bagian lain dari masa kecil Asma, sehingga hal itu membuat ia suka menulis. Dari kecil dia dilimpahi buku oleh orang tuanya, meski kondisi ekonomi tidak baik. Jenis bukunya macam-macam, mulai dari komik, biografi, asal-usul, Agatha Christie, hingga lima sekawan. Asma tidak percaya kalau menulis itu karena garis keturunan.

‘’Aku pernah menulis tulisan berat, tetapi tidak bagus. Akhirnya, aku beralih ke cerita fiksi dan merasa duniaku ada di sana,’’ kata Asma. Cerita bertema dunia remaja pun menjadi garapannya. Bukan karena belum banyak penulis yang memfokuskan diri pada dunia itu yang membuat Asma bergelut di dunia remaja. Namun, karena kecintaan dan rasa senang yang besar untuk menggali kisah-kisah remaja.

Sebetulnya, kebiasaan menulis cerpen itu sendiri suda dilakukan dia sejak kelas satu SMP. ‘’Waktu itu aku menulis cerpen 11 halaman,’’ Asma menjelaskan. Seorang saudaranya yang aktif di teater berkomentar bahwa cerpen itu klise, pasaran. Kritik itu membuat Asma bertekad untuk menulis lebih baik lagi.

Baru kelas tiga SMP dia merasa perlu memiliki misi dalam menulis cerita. Jadi, bukan hanya membuat cerita asal jadi, tanpa maksud. Saat itu perempuan bersuami Alamsyah yang bekerja sebagai wartawan di televisi NHK Jepang Indonesia itu mulai mengenakan jilbab. Tulisannya langsung terarah. Misinya ingin menceritakan bahwa Islam itu universal.

Pada awalnya Asma mengaku tidak merasa percaya diri atas karya yang dibuatnya. ‘’Kakak saya bilang, terus masuki secara serius. Kalau sudah menang dua kali, gak usah mikir seperti itu,’’ kata Asma menirukan nasihat Helvy. Pada 1994 dan 1995, majalah Ummi memberi penghargaan kepada Asma sebagai juara penulisan cerpen.

Pada sisi lain, Helvy mengingatkan bahwa pengarang perempuan itu jumlahnya masih sedikit. Apalagi, mereka yang peduli pada dunia remaja dan mempunyai misi. Hal itu mendorong Asma untuk terus maju dan berkarya di tengah ketidakpercayaan dirinya.

Sebagai penulis, Asma memang tidak mengalami masa penolakan oleh penerbit atau surat kabar. Cerpen pertamanya berjudul “Surat Buat Assadullah di Surga”, di muat di Annida pada 1990. Begitu seterusnya, majalah seperti Ummi, Sabili, dan lainnya, menjadi tempat berkiprah wanita yang hobi menonton film itu. ‘’Kecuali film fiksi ilmiah, Aku kurang suka,’’ tandasnya.

Ketika ditamnya hubungannya dengan Helvy, Asma mengaku tidak merasa bersaing, meski sama-sama penulis. Yang ada, katanya, malah saling mendukung. Apalagi, bidikan mereka berbeda. Helvy menggarap pasar orag-orang dewasa dan serius. Sementara itu, ia oeduli pada dunia remaja.

Asma mengaku banyak belajar dari kakaknya yang terlebih dahulu menulis.
‘’Helvy-lah yang mengganti namaku jadi Asma Nadia, yang artinya nama yang menyeru,’’ kata Asma. Waktu itu, Asma bercerita bahwa ia menyerahkan cerpen kepada kakaknya untuk dibaca. Ketika melihat bahwa ia menggunakan nama Asmarani Rosalba, Helvy seketika menggantinya dengan Asma Nadia. Katanya, nama aslinya susah diingat.

Geger otak yang dialaminya itu tidak menghalanginya untuk aktif di berbagai kegiatan sekolah, dari SD sampai kuliah. Maria Eri Susanti, sang ibu, juga tidak mengekang putri keduanya itu untuk mengekspresikan dirinya di kepramukaan, karate, dan teater sekolah.

Namun, kondisi itu membuat Asma tidak boleh kerja keras secara fisik. Dia tidak boleh berbenah-benah dan kena debu, sehingga akhirnya tidak bisa masak. Untuk keperluan makan dia; suami; dan kedua anaknya; Eva Maria Putri, 6,5 tahun, dan Adam Putra Firdaus, 2,5 tahun; keluarga itu memelihara pengasuh.

Terhadap para pengasuhnya itu, Asma selalu mengingatkan kedua anaknya untuk tidak menganggapnya sebagai pembantu. ‘’Mereka adalah pengasuh Caca dan Adam,’’ kata Asma kepada keduanya. Caca adalah panggilan akrab putri pertamanya. Tentang pembantu, wanita yang menikah di usia ke-23 itu mengaku sangat respek terhadap nasib mereka. Dia pun menulis novel berjudul Derai Sunyi.

Kini, sejumlah obsesi pun terus menggantung di benak Asma. Penulis yang tinggal di Depok itu berharap, suatu hari, memiliki rumah singgah bagi anak-anak telantar. Dia juga ingin membangun sekolah. Di dunianya, Asma berharap dapat membuat sebuah novel remaja yang lebih serius dan nyastra.

Tags: ,

Resensi : Ayat-ayat Cinta

motivasi November 27th, 2005

Ayat-ayat CintaEngkaulah perempuanku
Engkaulah takdirku…
Terima kasih Tuhan, untuk cinta sekali yang Kau berikan.

(Asma Nadia, Cinta dalam Sepotong Diam)

Seharusnya ini hanya tentang cinta, tak lebih. Sebuah sms masuk dari seorang teman, “Lalu, cinta itu apa day?”. Sebuah pertanyaan yang juga menggelitikku setelah membaca buku yang sama, Ayat-ayat cinta.

Waktu novel ini dijadikan cerita bersambung di koran Republika, aku
sebenarnya tak tertarik, apalagi berhasrat tuk mengikutinya. Pertama, tentu saja karena aku tak membaca Republika secara rutin. Kalau lagi ada ya kulihat, dan cerita bersambung ini tentu saja baru dibaca bila aku sudah kehabisan hal menarik dikoran itu.
Yang kedua, karena aku pikir ini cerita punya Arab, karena nama pengarangnya berbau Arab, Habiburrahman el Shiraezy. Apalagi dengan setting di Mesir, dan sebagian bahasa Arab, Jerman dan Inggris. Aku tak bisa mempercayai ini buatan orang Indonesia. Aku pikir, ini cerita model Najib Mahfoudz. Lagipula aku pikir ini seakan-akan membuktikan sebuah hipotesis betapa penduduk negeri ini tergila-gila dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Arab, seperti yang tercantum dalam kata pengantar buku Even Angel Ask, yang mengatakan bahwa kita sering terpesona bahwa ini harus pakai bahasa Arab, padahal Nabi sendiri mengajarkan khutbah sholat saja dilakukan dengan bahasa penduduk setempat.
Alasan ketiga adalah dalam suatu frame yang sempat aku baca, aku melihat konyol sekali tokoh utama di Novel ini, ketika ia akan menikah, ia diberi biodata dan foto calon istrinya (sesuatu yang aku yakini jalannya), tapi dia tak melakukannya, dan dia baru mengetahui wajah istrinya ketika proses khitbah akan dimulai. Padahal Nabi menganjurkan, lihatlah dari calon istrimu, sesuatu yang akan bisa membuat tertarik.

Tapi kemudian seorang guru meyuruhku membaca Novel ini, ketika pertanyaan tentang cinta, menikah dan calon istri begitu besar memenuhi kepala ini.

“Kamu akan belajar banyak dari sini”, katanya, “sebelum kamu belajar hal yang lainnya”.

Entahlah, bagiku, sebuah rekomendasi buku, buku apa saja, rekomendasi dari mana saja sepanjang rekomendasi itu tidak murahan, membuatku mencari buku tersebut pada hari itu juga. Jadi ingat buku Memoir punya bung Hatta, setelah beberapa lama mendengar buku ini, 2 minggu yang lalu aku menemukannya di Senen, sayang versi Bahasa Inggris, yang membuatku mundur, dan kemudian penjual itu seakan-akan mengejekku, “belum lancar ya?’ hehe.

Ok, buku ini aku buka, aku baca dulu apa kata orang lain tentang buku ini, hmm, recommended banget rupanya. Lalu mulai baca biodata pengarangnya, ternyata Indonesia asli, hanya memang pernah tinggal di Mesir.

Bab-bab awal, penulis mencoba mengenalkan semua tokoh yang nantinya akan terlibat. Lumayan lambat dan bertele-tele sih diawalnya mungkin karena ingin mengemukakan semua hal diawal sih sehingga sebuah perjalanan untuk mengaji saja akan memakan 50 halaman. Tapi mungkin memang cerita ini harus bermula dari sini. Pertemuan tokoh utama yaitu Fahri dengan Maria, seorang Qibti yang hafal surat Maryam; dengan Alicia, wartawan Amerika yang karena dia Amerika tidak disukai di Mesir, sehingga lupa dia adalah perempuan yang harus dihormati yang akan menimbulkan konflik selama di Bus; dengan Aisha, wanita campuran Jerman dan Turki yang kaya raya yang nantinya akan jadi istrinya; semua ingin dijabarkan diawal. Jujur kejutannya sudah hilang, ketika semua tokoh perempuan muncul, hmm ini akan jadi cinta segilima ketika tokoh Nurul, putri Kiai besar di Jawa dan Nourma, wanita yang ditolong oleh tokoh utama, muncul.

Naif dan sederhana bagiku, tapi entahlah ada sesuatu yang menarik hingga tak bisa aku berhenti. Cerita mengalir indah, tapi mungkin karena penulis tahu anatomi masyarakat Mesir, kelemahan dan harga dirinya, ini mirip sebuah sajian antropologi Cliffort Geertz. Kita dibawa, seakan-akan menjelajahi sebuah masyarakat yang begitu dekat dengan hidup kita. Pengetahuan hadis dan ayat Alqurannya, membuatku merasa kecil hati, aku tak tahu apa-apa rupanya. Tapi yang tentang kesehatannya, hehe disini boleh nyombong, banyak yang salah dalam buku ini.

Ini tentang cinta, penuh, hampir satu buku. Tapi disini cinta itu terasa indah, romantis tanpa harus sevulgar novel Indonesia sekarang. Tentang cinta yang disandarkan pada Allah, dan Allah membalasnya dengan amat baik. (jadi ingat seorang teman, ketika dia bilang hanya akan menikah dengan orang yang bisa mencintainya karena Allah).

Ceritanya bergulir cepat. Fahri disini menjadi pria ideal. Dengan Alicia, wartawan dari Amerika itu, ia mencoba menjawab semua pertanyaan tentang Islam itu apa. Ia merangkum berbagai tulisan untuk menjawabnya. Dan setelah selesai, ia memberikan tulisan itu pada Alicia yang nantinya akan menerbitkannya di Amerika. Dengan Maria,
gadis qibti itu, mereka berteman dengan sangat baik, Fahri berusaha menjadi tetangga yang baik bagi keluarga Maria. Dan semua kebaikan itu, menimbulkan pesona yang percikan apinya menyentuh hati Maria. Dengan Nourma, ia menjadi pahlawannya. Ialah yang berani untuk menjauhkan Nourma dari orang tuanya yang galak, mencari tahu jati diri orang tua Nourma yang kemudian menyatukan Nourma dengan orang tua
kandungnya. Dengan Nurul, anak kiai besar di pulau Jawa, mereka tahu kemana akan saling meminta tolong jika diperlukan. Simpati itu timbul, dan bagi Fahri sendiri, nama Nurul mampu menggetarkan hatinya walaupun disatu sisi ia tahu ada perbedaan kufu dan perasaan rendah dirinya. Dengan Aisha, ia terlihat luar biasa dimata Aisha, kefasihannya,
kedalaman agamanya dan kemuliaan akhlaknya memikat hati Aisha. Di sini cinta bersemi, tetapi disini juga cinta menemukan pelabuhannya. Disini cinta tak menjadi murahan yang diobral setiap saat ketika sesuatu belum jelas halalnya. Fahri memiliki rencana dalam
hidupnya. Ditahun itu ia berniat menikah, tetapi ia akan membiarkan waktu mengalir dan biarkan Alloh yang menentukan takdirnya. Tiba-tiba Nurul memintanya untuk menghubungi seorang kenalannya. Keterbatasan waktu Fahri membuatnya tak bisa memenuhi dengan cepat. Disisi lain Fahri diminta guru ngajinya untuk menikah dengan seorang yang memintanya yang dikemudian hari baru diketahui bernama Aisha.

Disini cinta menemukan jawabannya, tapi disini pula cinta menemukan kesendiriannya. Menikah bukanlah sekedar mencari pilihan. Ia harusnya menjadi pertimbangan objektif bukan subjektif. Kriteria disusun terlebih dahulu, baru pilihan tiba. Seharusnya akal sehat yang bermain, sebab cinta lebih mudah tumbuh daripada karakter pribadi. Setelah mengetahui siapa wanita itu, Fahri masuk kedalam suasana untuk lebih mengetahui visi dan mimpi calon istrinya. Dan keajaiban cinta berbicara, tak ada satupun yang menghalanginya. Maka Khitbah dilakukan dan waktu pernikahan ditentukan.

Tetapi ada waktu yang tak pernah bisa diputar ulang. Kenalan Nurul datang beberapa jam sebelum akad, dan menanyakan bersediakah Fahri menikahi Nurul. Sebuah cobaan datang tepat dihari yang seharusnya bahagia itu. Kenapa terlambat? Kenapa hati yang tergetar hanya tuk satu nama itu terlambat mengetahuinya? Siapa yang salah? Pengecutkah Fahri dengan rasa rendah dirinya? Ada penyesalan hadir, andai waktu… Tapi Fahri tak mungkin mundur, Fahri tak mungkin mengkhianati perjanjian yang sudah dilakukannya. Tapi ternyata hati ini harus menangis.

Ada banyak hati yang patah, ada banyak hati yang menyesali kenapa waktu tak berpihak. Bagi Maria dan Nourma, pertanyaan yang tersisa adalah hanya menangisi yang tersisa. Kenapa bertepuk sebelah tangan? Bagi Nurul, waktulah yang disesalinya. Kenapa terlambat? Andai waktu bisa berputar balik. (sebuah pertanyaan dan permintaan yang sama padaku terjadi beberapa waktu lalu). Tapi jodoh adalah urusan-Nya, bukan milik kita. Lihatlah bagaimana mereka menyikapinya. Bagi Nurul, hidup harus berlanjut. Menikah bukanlah sebuah urusan yang bisa ditunda. Cinta itu tetap ada, tapi menghadapi realitas lebih penting lagi bagi jiwa matang yang menyandarkan cinta pada Sang Pemilik cinta. Nurul menerima lamaran dari pria lain, dengan keyakinan bahwa cinta adalah urusan-Nya, Dia akan menumbuhkan bunga lain ditaman hati jika Dia berkehendak. Bagi Maria, ini adalah kepedihan. Maria sakit, koma, yang hanya terobati oleh Fahri. Atas kebesaran jiwa Aisha, istri Fahri, Fahri akhirnya diizinkan menikah dengan Maria.

Sedangkan Nourma, ternyata ia hamil setelah diperkosa bapak angkatnya. Dan cerita mengalir menuju klimaks ketika Nourma menuduh Fahri memperkosanya. Tapi kebenaran itu milik Allah, jawaban itu pun muncul diakhir cerita. Fahri bebas, Nourma mengakui kebohongannya adalah usaha agar Fahri mau menikah dengannya. Lalu cinta itu apa? Pertanyaan itu masih tersisa dan mungkin kita punya jawabannya sendiri. Ia adalah sebuah hal abstrak, karunia-Nya agar kita tahu arti dari kasih sayang itu, agar hidup kita bisa selalu terpenuhi dengan senyum, ketika kebahagiaan itu muncul melihat wajah saudaramu, kekasihmu atau orang tuamu. Bahkan udara ini pun bukti cinta-Nya pada kita.

Ini harusnya bukanlah tentang apakah aku ridha terhadap keputusan-Mu, tapi tentang “Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha “.
(doa Muhammad di Thaif)

Tags: ,